Memo Pelecut Semangatku

Memo Pelecut Semangatku


Ibuku bekerja sebagai penjahit dan Bapakku seorang pedagang bakso. Beliau berdua bekerja keras untuk membesarkan anak-anaknya. Seperti apapun beliau, tegas karna untuk mendidik anak-anaknya. Sejak kecil aku tinggal di perantauwan, rumahku di desa sedang diperbaiki, karena sebelumnya rusak tak di tinggali. Aku pernah merasakan tiada apa-apa, sehingga membuatku putus asa. Membayar sekolah, tersendat-sendat, sering di panggil BK tapi bukan karena aku nakal tapi karena menunggak pembayaran SPP. Sejak SD aku sudah akrab menemui kepala sekolah. Aku pernah ditawari beasiswa miskin, namun aku secara pribadi langsung menolak. Namun aku justru malah di cela, dianggap gengsi. Krisis demi krisis ini aku hadapi di usia mudaku.

Aku mulai belajar kehidupan di masa-masa sulit itu, betapa kerasnya beliau berusaha sebagai penjahit dan pedagang, sungguh tak bisa di remehkan. Karena aku tinggal di perantauwan sejak kecil, aku bertemu banyak sahabat dari berbagai suku, di sini aku justru belajar keberagaman Indonesia. Sebab aku tersendat dalam pembayaran SPP aku terus berusah mencari jalan keluarnya, sampai pada akhirnya aku menemukan jalan, yaitu aku harus berprestasi agar nantinya sekolah membantuku dengan beasiswa prestasi, bukan beasiswa miskin. Aku juga bukanya gengsi dikatakan miskin, aku hanya berpikir selama kita masih memiliki keinginan untuk berusaha, entah kapan suatu saat nanti pasti Sang Maha memberi kita keberhasilan. Aku juga melihat realita kenyataan banyak yang masih layak untuk di bantu dengan beasiswa miskin.

Sesulit apapun hidupku ini, aku harus tetap bersyukur. Dari kesulitan ini aku banyak menemukan pelajaran dari Kakak-kakak yang benar-benar tak kalah luar biasa perjuanganya dibandingkan denganku ini, sahabat-sahabat yang luar biasa mengajariku banyak hal. Aku yakin Sang Maha sudah menyiapkan kebahagiaan bagi tiap-tiap hambanya, jadi Jangan menyerah ! pastikan keyakinanmu untuk berhasil selalu terjaga, sukses itu hak siapa saja.